EDUKASI CERDIK IVA MENINGKATKAN PENGETAHUAN DAN KESADARAN WANITA USIA SUBUR UNTUK DETEKSI DINI KANKER SERVIK
Edukasi CERDIK IVA yang dilaksanakan di wilayah kerja UPTD BLUD Puskesmas Praya kegiatan tersebut dikoordinir oleh penanggung jawab Program IVA, Sri Yuliana, S.Keb.Bd. Pola hidup sehat untuk mencegah penyakit tidak menular (termasuk kanker serviks) yang meliputi: Cek kesehatan berkala, Enyahkan asap rokok, Rajin olahraga, Diet seimbang, Istirahat cukup, dan Kelola stres. Sementara itu, IVA (Inspeksi Visual dengan Asam Asetat) adalah metode deteksi dini kanker serviks dengan mengoleskan asam cuka pada leher rahim.
Poin Penting Pemeriksaan CERDIK IVA
Berikut adalah poin-poin penting dalam edukasi/penyuluhan tersebut:
1. Apa itu IVA Test? Pemer
iksaan leher rahim dengan mengoleskan asam asetat (cuka dapur encer 3-5%) untuk melihat tanda pra-kanker
(bercak putih)
2. Tujuan: Mendeteksi dini kanker leher rahim sebelum bergejala, sehingga pengobatan lebih mudah dan efektif.
3. Sasaran Utama: Wanita usia subur, terutama usia 30-50 tahun (disarankan minimal 1x seumur hidup).
4. Integrasi CERDIK: Pencegahan kanker serviks tidak hanya tes, tapi juga perilaku hidup sehat: Enyahkan asap
rokok, Rajin aktivitas fisik, Diet seimbang.,Istirahat cukup. Dan Kelola stres.
5. Keunggulan: Prosedur cepat (hanya beberapa menit), tidak sakit, dan langsung diketahui hasilnya oleh petugas
kesehatan.
Tujuan edukasi IVA :
1. Peningkatan Kesadaran dan Pengetahuan:
2. Meningkatkan pemahaman wanita mengenai apa itu kanker serviks, bahayanya, dan pentingnya
pemeriksaan dini.
3. Deteksi Dini dan Pencegahan: Mendorong deteksi lesi prakanker sedini mungkin agar penanganan
lebih mudah, efektif, dan mencegah perkembangan menjadi kanker yang lebih parah.
4. Meningkatkan Skrining Rutin: Mengubah perilaku masyarakat agar rutin melakukan pemeriksaan IVA yang murah,
cepat, dan mudah diakses.
5. Pengurangan Angka Kematian: Menurunkan tingkat morbiditas dan mortalitas kanker leher rahim di Indonesia.
6. Membentuk Sikap Positif: Mengurangi ketakutan atau stigma negatif terhadap pemeriksaan kesehatan reproduksi.
7. Edukasi ini biasanya menyasar pasangan usia subur agar segera melakukan tindakan pencegahan dan deteksi dini ke fasilitas kesehatan.
Penyuluhan ini biasanya dilakukan di Puskesmas atau posyandu untuk meningkatkan partisipasi wanita dalam skrining rutin.



